Hidup di Bawah Kemampuan


Salah satu tips yang muncul dalam buku mengenai mencapai kekayaan adalah hidup di bawah kemampuan. Konsep ini akan memberikan daya tahan secara ekonomis dan psikologis.

Perspektif Keuangan

Dari perspektif keuangan, kita menentukan dulu berapa besaran minimal yang dibutuhkan untuk hidup layak, tanpa bermewah-mewah dengan uang, kemudian dilaksanakan. Kalau biasa seminggu sekali makan di restoran, dikurangi jadi sebulan sekali atau jadi tiga bulan sekali. Ketika smart-phone masih memadai, jangan tergoda dengan merk baru yang selalu muncul setiap bulan.  Tinggal perawatannya saja yang baik supaya bisa awet dan bekerja secara optimal.

Sisa uangnya digunakan untuk investasi, menambah skala usaha dan untuk shodaqoh. Dari sini kita akan mulai meningkatkan kapasitas dan kemampuan keuangan.

Ketika nanti kondisi keuangan terus naik, gaya hidup diusahakan tidak meningkat juga. Hal ini untuk mengantisipasi jika suatu saat keadaan memburuk, kita masih bisa terus bertahan. Ada banyak orang yang stress ketika keadaan ekonomi memburuk karena terbiasa hidup mewah.

Perspektif  Waktu

Bermewah-mewah dengan waktu pun merupakan sesuatu yang kurang baik karena kita punya banyak target untuk dicapai. Ingin menolong lebih banyak orang, ingin meningkatkan skala usaha, ingin menjadi market leader, dan lain sebagainya.

Ada masa-masa ketika jadwal sedang banyak kosong dan waktu luang sedang banyak. Hal ini seringkali menjadikan kita terlena dan berleha-leha. Melaksanakan hobi yang tidak jelas dan tidak bermanfaat. Untuk mengatasi hal ini, kita sebaiknya tetap membuat penjadwalan harian untuk berusaha mencapai tujuan jangka pendek dan panjang.

Satu hal yang penting mengenai pengaturan waktu mengenai pembatasan diri sendiri, karena seringkali kita terlalu asyik dalam mengerjakan satu hal, sampai melupakan kalau kita juga mesti mengerjakan hal lain.

Perihal

Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Ditulis dalam Artikel, bisnis dan keuangan
2 comments on “Hidup di Bawah Kemampuan
  1. Aha Gambreng mengatakan:

    wah,,, bagus bagus… ini… biasanya ketika penghasilan naik dikit.. maka gaya hidup naiknya drastis.. hem… tulisan yang sangat bermanfaat…

    • syamsul hadi mengatakan:

      Terimakasih atas komentarnya. Sedikit meminjam dari ajarannya Kiyosaki, bahwa untuk meningkatkan kekayaan, berarti menambah asset, bukan beban.

      Seorang pengusaha yang saya kenal berkata kalau banyak pengusaha lainnya yang baru saja mulai usaha sudah bermewah-mewah, dalihnya adalah memperkuat citra/image. Supaya terlihat kaya, padahal belum benar-benar kaya, akhirnya tidak berapa lama kemudian sebanyak itu pula yang menghadapi kebangkrutan usaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: